: Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal (Studi Perbandingan Pada Perusahaan Aneka Industri dan Consumer Goods Periode 2007-2009)

Struktur modal adalah perbandingan atau perimbangan antara modal asing dengan modal sendiri (Riyanto, 1995). Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya sementara bekerja di dalam perusahaan dan bagi perusahaan yang bersangkutan modal tersebut merupakan hutang yang pada saatnya harus dibayar kembali. Modal asing digolongkan menjadi 3 berdasarkan jangka waktunya, yaitu modal asing jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Sedangkan modal sendiri adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan yang tertanam di perusahaan untuk jangka waktu tertentu.
Struktur modal (capital structure) sangat penting dalam membiayai aktifitas operasional perusahaan. Besarnya struktur modal sangat tergantung dari komposisi sumber daya yang diperoleh dari pihak eksternal maupun internal perusahaan, yang berupa hutang dan modal sendiri. Makin besar modal yang disetorkan oleh pemegang saham, makin leluasa bagi manajemen untuk kebutuhan operasionalnya, sebab tidak ada kewajiban kepada kreditor. Komponen modal sendiri atau equity pada perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) antara lain berupa modal disetor, agio saham, laba ditahan dan laba tahun berjalan. Struktur modal merupakan perbandingan hutang dan ekuitas ( Husnan, 1998). Keinginan untuk mewujudkan struktur modal yang optimal sudah menjadi perhatian para praktisi dan akademisi. Rasio antara sumber dana dari pihak ketiga terhadap ekuitas disebut debt to equity ratio (DER). Rasio ini dapat menunjukkan tingkat risiko suatu perusahaan dimana semakin tinggi DER, maka semakin tinggi risiko perusahaan, karena pendanaan (financing) dari hutang semakin besar. Menurut Brigham (1983) investor cenderung lebih tertarik pada tingkat DER tertentu yang besarnya kurang dari satu, karena jika lebih besar dari satu menunjukkan risiko perusahaan yang lebih tinggi.
Menurut Van Horne (1998), perusahaan dalam melakukan financing yang berkaitan dengan modal sendiri (equity) harus memperhatikan dua hal, (1) Apabila perusahan ingin mempertahankan posisi solvabilitas dan likuiditas diperlukan modal sendiri yang memadai, (2) pertumbuhan modal sendiri yang berlebihan dapat menurunkan rentabilitas modal sendiri dan juga akan meningkatkan biaya modal sendiri. Kenaikan DER sampai tingkat tertentu akan meminimumkan biaya modal, tapi bila pertambahan terlalu berlebihan justru akan berakibat meningkatnya biaya modal yang berupa biaya bunga.
Sejalan dengan aktifitas sehari-harinya, perusahaan memerlukan modal tambahan yang tidak sedikit. Adanya kekurangan dana ini dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan perusahaan seperti pembelian bahan, produksi distribusi dan lain-lain, sehinga tambahan dana sangat diperlukan. Menurut sifatnya ada dua macam tipe pendanaan yaitu pendanaan dari luar berupa pinjaman dan dapat juga dengan menjual surat berharga melalui pasar modal dan pendanaan dari dalam yang berasal dari laba ditahan. (Ang,1997)
Dalam menetapkan sumber dana manakah yang akan dipilih, perusahaan harus menghitungnya dengan matang agar diperoleh kombinasi struktur modal yang optimal yang berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan perusahan. Perusahaan yang memiliki srtuktur modal optimal akan menghasilkan tingkat pengembalian yang optimal pula sehingga bukan perusahaan yang memperoleh keuntungan, tapi para pemegang saham pun akan memperoleh keuntungan tersebut. Dalam menentukan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri, perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga dapat diharapkan mendapat struktur modal yang optimal, hal ini disebabkan struktur modal yang optimal dapat meminimalkan biaya modal dan memaksimalkan nilai perusahaan (Brigham dan Gapenski,1996)
Aydin Oskan (2001) menyatakan bahwa struktur modal berkembang secara dinamis dan berubah dari waktu ke waktu, akibatnya selalu terjadi perubahan struktur modal dan juga faktor-faktor yang mempengaruhinya, hal ini disebabkan karena dalam operasional perusahaan selalu terjadi berbagai kepentingan berkenaan pendanaan yang berakibat pada dinamika DER. Dengan demikian maka perlu diteliti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.
Dalam keputusan manajemen untuk mendapatkan hutang dari kreditur ada beberapa variabel yang diduga mempengaruhi kreditur untuk mengucurkan hutang terhadap debitur yaitu variabel pertumbuhan penjualan diduga mempengaruhi kreditur dalam memberikan pinjaman dimana perusahaan yang mengalami pertumbuhan penjualan dinilai mempunyai prospek baik dalam perkembangannya dan ini mengurangi resiko (Sofiati, 2001). Selanjutnya variable lstruktur aktiva dimana semakin besar nilainya maka semakin mencukupi asset yang dapat digunakan sebagai jaminan hutang (Weston dan Copeland, 1997). Variabel profitabilitas dimana kreditur bisa menilai apakah perusahaan (debitur) mampu membayar hutang yang dilihat dari keuntungan perusahaan (Titmen dan Wessel, 1998). Dan yang terakhir variabel firm size dimana semakin meningkatnya perhatian kreditor terhadap perusahaan maka sangat dimungkinkan jumlah hutang akan semakin meningkat. Peningkatan jumlah hutang yang relative lebih besar daripada modal sendiri akan meningkatkan debt to equity ratio (Ang, 1997).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini memperluas dengan menguji perbedaan kebijakan hutang pada perusahaan aneka industri dan perusahaan consumer goods periode tahun 2007-2009 dengan alasan bahwa perusahaan aneka industri mempunyai kapitalisasi atau volume perdagangan yang besar sehingga memerlukan modal yang besar daripada perusahaan consumer goods.
Untuk struktur modal diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER) dikarenakan DER mencerminkan besarnya proporsi antara total debt (total hutang) dan total modal sendiri. DER adalah kemampuan perusahaan dalam mengembalikan hutang dengan melihat modal sendiri perusahaan. Dimana total debt merupakan total liabilities (baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang). Sedangkan shareholder’s equity merupakan total modal sendiri
dibagi dengan total modal saham yang disetor dan laba ditahan.
Data empiris mengenai variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu: DER, pertumbuhan penjualan, struktur aktiva, profitabilitas, dan firm size periode 2007-2009.
Weston dan Brigham (1994) menyatakan bahwa perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil akan lebih mudah memperoleh pinjaman, semakin stabil perusahaan maka akan semakin besar kemungkinan perusahaan membelanjai kegiatan dengan hutang. Jika 2009 tidak menunjukkan adanya fenomena gap. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Thiesbdan Klock (1992) yang menunjukkan adanya pengaruh positif pertumbuhan penjualan terhadap DER. Penelitian lain dengan variabel ini oleh Sartono dan Sriharto (1999) tidak menemukan adanya hubungan signifikan terhadap struktur modal.
Semakin besar aset diharapkan semakin besar hasil operasional yan \dihasilkan oleh perusahaan. Peningkatan aset yang diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Struktur aktiva pada tahun 2007-2008 menunjukkan adanya fenomena gap dimana pada tahun tersebut struktur aktiva menunjukkan trend yang meningkat sedangkan DER menunjukkan trend yang menurun. Tetapi pada tahun 2008-2009 struktur aktiva tidak menunjukkan adanya fenomena gap. Hal tersebut tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Moh’d et al. (1998) dan Jensen et al. (1992) dalam
Wahidahwati (2002) yang menunjukkan adanya pengaruh yang positif struktur aktiva terhadap DER. Hasil yang berbeda diperoleh Sartono dan Sriharto (1999) dalam penelitian yang dilakukan menemukan bahwa variabel struktur aktiva tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap strukturnmodal serta arah penelitiannya menunjukkan hasil yang negatif.
Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan perusahaan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Profitabilitas pada tahun 2007-2008 menunjukkan adanya fenomena gap dimana profitabilitas menunjukkan trend yang meningkat sementara DER menurun. Sedangkan pada tahun 2008-2009 profitabilitas juga menunjukkan adanya fenomena gap. Moh’d et al (1998) pada penelitiannya menyebutkan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh negatif terhadap struktur modal perusahaan. Hal tersebut tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mayangsari (2001) yang menunjukkan adanya pengaruh positif ROA terhadap DER. Penelitian Sartono dan Sriharto menunjukkan hasil bahwa
profitabilitas tidak memiliki pengaruh terhadap struktur modal.
Semakin meningkatnya perhatian kreditor terhadap perusahaan maka sangat dimungkinkan jumlah hutang akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena perusahaan yang besar memiliki kebutuhan dana yang besar dan salah satu pemenuhan dana yang tersedia menggunakan pendanaan eksternal. Size pada tahun 2007-2008 menunjukkan adanya fenomena gap dimana pada tahun tersebut size menunjukkan trend yang meningkat sementara DER menunjukkan trend yang menurun. Sedangkan pada tahun 2008-2009 tidak terjadi fenomena gap. Wahidahwati (2002) menemukan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh yang positif terhadap struktur modal. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sekar Mayangsari (2001) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap DER..

REFF : http://ellsaells.blogspot.com/2012/10/tema-2_210.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s