Pengangguran Dinilai Masalah Ekonomi Terbesar Indo

TEMPO Interaktif, Jakarta – Presiden Boston Institute for Developing Economies Gustav F. Papanek menilai masalah terbesar dalam perekonomian Indonesia adalah pengangguran. “Saya khawatir dengan masalah terselubung di Indonesia, yaitu pertumbuhan tanpa pekerjaan,” katanya ketika diwawancarai Tempo di Hotel Four Seasons, Jakarta, Kamis (1/4).

Setiap tahun, 2 juta orang di Indonesia mencari pekerjaan. Berarti, setelah krisis moneter 1998, ada 22 juta pengangguran. Papanek menghitung, hanya 5,5 juta yang telah mendapat pekerjaan tetap.

Sementara 3,5 juta mencari pekerjaan di luar negeri, sebagian besar sebagai pembantu rumah tangga, dan 4 juta tetap menganggur. Sisanya, menunjukkan sudah mendapat pekerjaan dalam statistik, namun sebenarnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Ini disebut Papanek dengan istilah work in income sharing atau pekerjaan berbagi penghasilan.

Papanek yang pernah menjabat Direktur Harvard Advisory Group untuk Komisi Perencanaan dan Departemen Keuangan Indonesia pada 1971 hingga 1973 ini mencontohkan pekerjaan tukang semir sepatu.

“Jumlah sepatu tidak bertambah, tapi tukang semir sepatunya bertambah. Yang tadinya penghasilan dibagi tiga, sekarang harus dibagi empat,” pungkasnya.

Pekerjaan semacam ini ada, menurutnya, bukan karena dibutuhkan, tapi karena orang butuh pekerjaan. Produktivitas dari pekerjaan ini dinilai Papanek sangat rendah, bahkan tidak ada sama sekali. “Mereka hanya mengkonsumsi, tidak memproduksi,” tuturnya.

Lahan pekerjaan yang juga banyak digeluti pekerja Indonesia adalah di sektor pertanian. Pekerjaan ini juga dinilainya sebagai work in income sharing, karena lahan pertanian tidak bertambah, hanya tenaga kerjanya yang jumlahnya bertambah.

Padahal, negara yang benar-benar berkembang ditandai dengan menurunnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian. “Seperti China, India, dan Vietnam,” ujar Papanek.

Solusi untuk masalah pengangguran ini adalah menaikkan angka pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Target pemerintah sebesar 7 persen dinilai Papanek masih belum cukup. “Dulu Indonesia mampu tumbuh 8 persen, kenapa sekarang tidak,” katanya.

Pertumbuhan itu dapat dicapai dengan tiga langkah. Pertama, menambah dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat yang menjadi solusi cepat dalam penambahan pendapatan bagi rakyat miskin dan pembangunan infrastruktur rural.

Kedua, memperbesar ekspor mineral, minyak, gas, dan tanaman perkebunan yang hasilnya bisa digunakan untuk mendanai kesehatan, pendidikan, dan perumahan bagi rakyat miskin.

Ketiga, meningkatkan pangsa pasar dunia, terutama dari ekonomi yang menghasilkan lapangan pekerjaan seperti industri manufaktur. Papanek mencontohkan, dulu industri tekstil dan garmen Indonesia menguasai 2,5 persen pangsa pasar dunia, sekarang hanya 1,7 persen. Padahal, selisih tersebut berarti berkurangnya 5 miliar ekspor dan 1,5 juta lapangan pekerjaan.

Solusi ini merupakan solusi jangka pendek dalam menggerakkan ekonomi Indonesia. Untuk meningkatkan pembangunan ekonomi Indonesia jangka panjang, Papanek memberikan resep perbaikan sistem pendidikan.

“Butuh waktu lama, namun bisa dipercepat dengan membangun perguruan tinggi kelas dunia yang juga memberikan pendidikan untuk rakyat miskin, seperti di India,” katanya.

Pencari kerja di Kabupaten Tegal Mencapai 16 Ribu Orang

TEMPO Interaktif, Slawi  – Pencari kerja di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada awal 2010 ini diperkirakan mencapai 16 ribu orang. Jumlah ini relatif tinggi dibanding daya serap dunia kerja yang hanya mampu menerima 23 persen.

“Itu hasil pemantauan kami saat memasuki awal tahun ini,” ujar Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tegal Wakhidin saat dihubungi, Tempo, Minggu (10/1).

Menurut Wakhidin, tingginya pencari pekerja ini menjadi tangung jawab pemerintah Kabupaten Tegal untuk membebaskan mereka dari pengangguran. Ia khawatir, jumlah pencari kerja ini makin bertambah, saat membanjirnya produk impor yang telah membanjiri pasar lokal.

“Ada kekhawatiran dunia industri di Kabupaten Tegal tutup akibat kalah persaingan kualitas produksi, sehingga menimbulkan pengangguran baru,” ungkap Wakhidin.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tegal segera mencari solusi dengan cara mengupayakan program penciptaan tenaga kerja yang mandiri dan memiliki daya saing yang cukup. “Itu bisa dilakukan dengan cara koordinasi lintas sektoral, termasuk melibatkan peran swasta,” katanya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Tegal Washadun mengaku, jumlah pencari kerja di Kabupaten Tegal yang mendaftar melalui instansinya hanya 4.700 orang. “Itu yang resmi selama Januari ini, tak tahu kalau yang ada di masyarakat,” katanya.

Jumlah tersebut, menurut Washadun, 20 persen atau sebanyak 940 di antaranya telah diterima kerja melalui Perusahaan Jasa Penyalur Tenga Kerja Indonesia ke luar negeri.

Menurut Washadun, jumlah pencari kerja ini relatif banyak dibanding pada bulan-bulan sebelumnya pada 2009 yang kurang dari empat ribu orang per bulan. Saat ini Dinas Tenaga kerja setempat masih mengupayakan pelatihan kemampuan keterampilan para pencari kerja yang telah terdaftar.

Langkah ini dilakukan agar mereka memiliki bekal bila ada perusahaan yang memerlukan.
“Mereka kami titipkan di sejumlah industri rumahan yang ada di Kabupaten Tegal,” terangr Washadun.

sumber : http://www.tempointeraktif.com/bisnis/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s